JAKARTA — Sebanyak 70 tokoh nasional, akademisi, dan pemimpin organisasi kemasyarakatan Aceh berkumpul dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Perempuan Aceh Bicara: Menyatukan Aspirasi, Menguatkan Peran Strategis Perempuan Aceh: Mengintegrasikan Keunggulan Syariah dan Modernitas Global" di Wisma Taman Iskandar Muda (TIM), Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Kegiatan kolaboratif yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Tiara Indonesia Gemilang (dipimpin Ir. Hanifah Husein), Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Jakarta (dipimpin Dr. Ir. Surya Darma, MBA), dan Perkumpulan HIKMAH (dipimpin Abdul Latief) ini menjadi panggung strategis untuk merumuskan "Peta Jalan Perempuan Aceh 2045".
FGD ini dihadiri oleh jajaran tokoh terkemuka Aceh di Jakarta, di antaranya Dr. Mustafa Abubakar, Dr. Tjut Rifameutia, M.A. (mantan Dekan Fakultas Psikologi UI), Dr. Teuku Riefky (ahli ekonomi nasional dari LPEM UI), Cut Ellyzar Banta Ali, Pocut Haslinda Syahrul, Liza Mustafa, Prof. Marlinda Purnomo, Prof. Meutia (Untirta Serang), Prof. Dr. Umaimah Wahid, Prof. Dr. TB Massa Djafar, hingga Prof. Dr. Ir. Hammam Riza.
Refleksi Sejarah dan Kebangkitan Kepemimpinan
Dalam pembukaannya, Ketua MAA Perwakilan Jakarta, Dr. Ir. Surya Darma, MBA, menegaskan bahwa sejarah panjang Tanah Rencong telah membuktikan keagungan peran perempuan Aceh di tingkat puncak kepemimpinan.
"Perempuan Aceh dalam sejarah bukan sekadar pelengkap, melainkan pilar utama ketatanegaraan, militer, dan keilmuan. Kita mengenal Ratu Nahrasiyah, Laksamana Keumalahayati yang memimpin armada laut, hingga Sultanah Safiatuddin yang memimpin Kerajaan Aceh Darussalam selama 34 tahun atas musyawarah para ulama. Nilai-nilai syariat Islam dan adat Aceh sejak dahulu mendudukkan perempuan pada posisi yang sangat terhormat dan berdaya. Kini saatnya kita membangkitkan kembali kejayaan sejarah tersebut dalam konteks modern. Perempuan Aceh harus bertransformasi dari sekadar objek narasi menjadi subjek pengambil keputusan di ranah publik dan kebijakan digital."
— Dr. Ir. Surya Darma, MBA, Ketua MAA Perwakilan Jakarta
Pandangan senada disampaikan oleh tokoh nasional Aceh, Dr. Mustafa Abubakar, yang menyoroti perlunya menjembatani gap antara kebesaran masa lalu dengan realita kepemimpinan masa kini.
"Sejarah membuktikan bahwa perempuan Aceh memiliki daya juang dan kapasitas kepemimpinan yang luar biasa. Namun saat ini, kita melihat ada ketimpangan. Pelaku UMKM perempuan Aceh mencapai lebih dari 64%, tetapi keterwakilan mereka di panggung politik dan pimpinan kebijakan masih sangat terbatas. Di masa depan, perempuan Aceh tidak boleh hanya tangguh di sektor domestik dan informal. Mereka harus melangkah ke meja kebijakan, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, serta sains tanpa kehilangan akar nilai adat dan syariat Islam yang rahmatan lil 'alamin."
— Dr. Mustafa Abubakar, Tokoh Nasional Aceh
Poin-Poin Utama Rumusan FGD "Perempuan Aceh Bicara"
FGD Sesi Panel 1 dan Sesi 2 melahirkan sejumlah rekomendasi strategis lintas sektor:
1. Pondasi Ketahanan Keluarga & Pengasuhan Berbasis Digital
Pakar psikologi nasional Elly Risman, Psi. dan Dr. Tjut Rifameutia, M.A. (mantan Dekan Fakultas Psikologi UI) menekankan bahwa keluarga adalah madrasatul ula. Hasil riset singkat Elly Risman terhadap 100 warga Aceh menegaskan pentingnya pengasuhan kolaboratif antara ayah dan ibu dalam mengawal mental serta masa depan anak. Dr. Tjut Rifameutia menambahkan bahwa teknologi bukan musuh anak, melainkan instrumen yang harus dikelola melalui 6 prinsip pengasuhan digital (Hadir, Pahami, Sepakati, Mendampingi, Melatih, dan Meneladani) demi melahirkan generasi Aceh 2045 yang beriman, beradab, dan bernalar kritis.
2. Reinterpretation Syariah & Akses Layanan Publik
Dosen Magister Resolusi Konflik USK, Ir. Suraiya Kamaruzzaman, M.T., memaparkan pentingnya menggunakan Maqasid Syariah (menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta) untuk menguji keberhasilan kebijakan publik. Penegakan hukum dan layanan perlindungan korban (UU TPKS dan Qanun No. 4/2025) harus dijamin aman, accessible, dan bebas dari stigma.
3. Inovasi Ekonomi Syariah, STEM, dan Pembangunan SDM
Ketua Umum KORIKA Prof. Dr. Ir. Hammam Riza bersama ahli ekonomi nasional dari LPEM UI Dr. Teuku Riefky membedah penguatan SDM dan struktur ekonomi Aceh. Mendorong perempuan Aceh bertransformasi dari sekadar digital user menjadi digital creator, innovator, dan leader. Integrasi pendidikan STEM, adopsi Kecerdasan Buatan (AI) bagi UMKM, serta inklusi Sharia Fintech menjadi kunci membawa produk unggulan daerah bersaing di pasar global.
4. Kedaulatan Narasi Digital
Prof. Dr. Umaimah Wahid menekankan pentingnya membangun komunikasi strategis dan literasi digital berbasis adat serta syariat guna membentengi perempuan dari ancaman Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dan menangkal stigma negatif di ruang siber.
Menuju Peta Jalan Perempuan Aceh 2045
Melalui pembacaan draf rekomendasi di akhir acara, seluruh penyelenggara dan tokoh yang hadir berkomitmen mengawal "Peta Jalan Perempuan Aceh 2045". Peta jalan ini mencakup empat fase transformasi utama: Literacy (2026-2030), Capability (2030-2035), Innovation (2035-2040), dan Leadership (2040-2045) demi mencetak generasi pemimpin perempuan yang berilmu, berkarya, dan memimpin dari Aceh untuk dunia. (LEP)
