Jakarta — Penulis dan pemerhati kebangsaan, Robertho Manurung, menilai bahwa bombardir isu komunisme yang berkembang di tengah masyarakat justru tanpa disadari telah mengkerdilkan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
BY GentaraNews
BY GentaraNews
Menurut pengamat sosial politik sekaligus mantan aktivis dan birokrat, Robertho Manurung, berbagai program subsidi dan bantuan gratis yang selama ini digulirkan pemerintah kerap kali hanya menjadi fenomena politik semata tanpa menyentuh akar persoalan masyarakat secara menyeluruh.
“Bantuan sosial dan subsidi jangan hanya menjadi ‘lipstik politik’. Jika tidak tepat sasaran, maka hanya akan melahirkan ketergantungan dan memperbesar beban ekonomi negara,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya tradisi hidup bergantung pada utang, baik dalam skala individu maupun negara. Akibatnya, muncul istilah “gali lubang tutup lubang” yang mencerminkan lemahnya ketahanan ekonomi nasional.
Selain itu, Robertho juga menyoroti kondisi politik nasional yang dinilai semakin dipengaruhi kepentingan kelompok dan koalisi partai. Menurutnya, jabatan strategis di pemerintahan seharusnya lebih banyak diisi oleh kalangan profesional, akademisi, dan ilmuwan yang memiliki kapasitas dan kompetensi di bidangnya.
“Banyak tokoh profesional dan akademisi yang sebenarnya mampu berkontribusi untuk bangsa, namun sering kali tersisih oleh kepentingan politik praktis dan pembagian kekuasaan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa target kebijakan sosial politik pemerintah harus diarahkan secara jelas kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan, terutama di wilayah desa, daerah pertanian, serta kawasan 3T (terluar, terdepan, dan tertinggal).
Menurutnya, apabila bantuan sosial maupun kebijakan politik tidak berpihak kepada sektor-sektor mendasar tersebut, maka dampaknya akan sangat besar terhadap masa depan bangsa, khususnya di sektor perekonomian dan kesejahteraan generasi penerus.
“Jika persoalan mendasar ini tidak segera dibenahi, maka negara akan menghadapi dampak multidimensi yang bisa menjadi beban berat bagi generasi mendatang,” tutupnya. (*)
(Penulis: Robertho)
BY GentaraNews
Pandangan tersebut disampaikan oleh Robertho Manurung yang menilai bahwa arah pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berpotensi mengalami kemunduran apabila pembangunan tidak kembali menitikberatkan pada sektor pedesaan dan pertanian.
Menurutnya, Indonesia sebagai negara agraris seharusnya memperkuat pembangunan infrastruktur pedesaan seperti sistem pengairan, waduk, transportasi hasil pertanian, hingga penyediaan alat pengawetan hasil panen. Selain itu, dukungan subsidi pertanian juga dinilai penting guna meningkatkan hasil dan kualitas produksi nasional.
“Pemerataan pembangunan harus menjadi prioritas utama. Desa merupakan soko guru perekonomian nasional. Jika pembangunan desa lemah, maka dampaknya akan menjalar ke kota dan memunculkan persoalan sosial-ekonomi baru,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kemajuan sektor agraris akan menjadi fondasi kuat bagi proses industrialisasi nasional. Dengan pertanian yang maju, industri pengolahan akan berkembang, penyerapan tenaga kerja meningkat, ekspor pangan bertambah, penerimaan pajak negara meningkat, serta inflasi dapat lebih terkendali.
Lebih lanjut, berbagai program pemerintah seperti program MBG (Makan Bergizi Gratis), KMP (Koperasi Merah Putih), serta pembangunan Sekolah Rakyat Berkualitas dinilai perlu diarahkan secara lebih fokus kepada wilayah pedesaan, daerah pertanian, dan masyarakat miskin yang benar-benar membutuhkan.
Menurutnya, rendahnya pembangunan desa selama ini telah memunculkan efek sosial-ekonomi yang nyata di kawasan perkotaan. Hal itu terlihat dari berkembangnya sektor ojek yang kini merambah hampir seluruh lapisan masyarakat sebagai bentuk bertahan hidup di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan produktif.
“Apabila pembangunan desa diperkuat secara serius dan berkelanjutan, maka akan tercipta kemakmuran bangsa, keadilan sosial, serta keberhasilan pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan rakyat sebagai pemegang mandat negara,” tambahnya.
Robertho Manurung sendiri dikenal sebagai mantan Ketua Pemuda Tani Nasional HKTI, mantan Ketua Pemuda Tani HKTI DKI Jakarta, serta pernah aktif sebagai pengurus KNPI dan Kosgoro Jawa Tengah. Saat ini ia aktif dalam Ikatan Pensiunan/Werdatama Sospol/Kesbangpol Provinsi DKI Jakarta dan menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pakar DPD Partai NasDem DKI Jakarta.
Rilis ini disampaikan sebagai bagian dari buah pemikiran dan rangsangan intelektual dalam menjawab berbagai tantangan bangsa Indonesia saat ini. (LEP)
BY GentaraNews
BY GentaraNews
Sikap resmi ditunjukan oleh Majelis Adat Aceh (MAA)
Perwakilan Jakarta dengan mengirimkan surat resmi kepada Menteri
Agama (Menag) Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, terkait polemik penggunaan
atribut pakaian adat Aceh dalam penyampaian
ucapan yang berkaitan dengan perayaan keagamaan non-muslim.
Surat MAA tersebut
tertanggal 12 Mei 2026 dan ditandatangani Ketua MAA Perwakilan Jakarta,
Dr. Ir. Surya Darma, MBA.
"Kami
dari MAA Perwakilan Jakarta sudah
mengirim surat nomor 005/MAA/PWJKT/V/2026, menyampaikan bahwa pakaian adat Aceh seperti Kupiah
Meuketop bukan sekadar busana seremonial, tetapi simbol identitas sejarah,
nilai syariat, dan marwah masyarakat Aceh sebagai “Serambi
Mekkah”jelas Surya Darma saat ditemui di ruang kerjanyavdi Jakarta,
Rabu (13/5/2026).
Karena
itu, penggunaan atribut adat Aceh dinilai memiliki dimensi etika, penghormatan budaya,
serta sensitivitas sosial yang harus dijaga secara bijaksana, " tambah Surya
Darma
Seperti
diketahui Menteri Agama mengenakan pakai adat Aceh saya
menyampaikan ucapan "Bulan Maria."
Ketua MAA Perwakilan Jakarta menyebut
penggunaan atribut adat Aceh dalam konteks ucapan keagamaan tertentu
telah memunculkan berbagai pandangan dan keresahan di tengah masyarakat Aceh.
Dalam
surat tersebut, MAA juga
menegaskan pentingnya menjaga harmonisasi sosial dan menghormati
kekhususan Aceh sebagaimana
dijamin dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.
Melalui
surat itu, MAA Perwakilan Jakarta meminta
Menteri Agama memberikan klarifikasi resmi mengenai maksud dan tujuan
penggunaan atribut adat Aceh tersebut.
Selain
itu, MAA juga
mengimbau agar pejabat publik lebih berhati-hati dalam menggunakan simbol
budaya daerah tertentu dengan mempertimbangkan nilai sejarah, agama, dan adat
yang melekat padanya.
“Pernyataan
ini kami sampaikan sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar serta upaya menjaga
marwah adat Aceh dalam
bingkai persatuan nasional,” demikian kutipan surat MAA Perwakilan Jakarta.
Surat
tersebut juga ditembuskan kepada Presiden Republik Indonesia, Ketua DPR RI,
Menteri Dalam Negeri, Wali Nanggroe Aceh, Gubernur Aceh, Ketua MAA Pusat, Ketua
MPU Aceh,
serta Ombudsman Republik Indonesia.
Lebih lanjut
Surya Darma menyatakan bahwa masyarakat Aceh tetap menjunjung
tinggi toleransi antarumat beragama dan semangat persatuan nasional.
Namun,
berharap penggunaan simbol adat Aceh dilakukan secara proporsional dan
tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat. (LEP)