Baca Juga
Kamis, 04 Juni 2026
Rabu, 03 Juni 2026
Pemerintah Aceh Lepas Delegasi Tari Saman Ke Korea Selatan, Bawa Misi Diplomasi Budaya Di Festival Internasional
BY GentaraNews IN Daerah
Acara berlangsung khidmat dan penuh haru.
Hadir dalam kesempatan itu para guru, orang tua anggota tim Saman, Ketua Persatuan
Aceh Seranto Ahyar Kamil, SH, Penasihat Lembaga Seni Budaya Gayo Aceh (Lesbuga)
Hasan Daling, Pembina Lesbuga Alwien Desry, serta sejumlah tokoh masyarakat
Aceh di Jakarta dan tokoh literasi budaya Le Putra.
“Patut kita syukuri, di tengah
kondisi musibah banjir yang melanda, Pemerintah Aceh tetap memberi perhatian
besar pada kebudayaan. Ini merupakan arahan langsung Gubernur Aceh melalui
Sekretaris Daerah agar tim Saman dapat berangkat ke Korea Selatan,” ujarnya.
Keikutsertaan Tari Saman dalam ajang
internasional bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari diplomasi
budaya untuk memperkenalkan Aceh kepada masyarakat dunia”, tambah Said Marzuki
“Promosi melalui seni budaya jauh lebih
elegan dan menyentuh. Dunia akan mengenal Aceh melalui keindahan dan kekayaan
tradisinya, pesan Gubernur Aceh kepada seluruh delegasi agar menjaga nama baik
daerah dan bangsa selama berada di luar negeri” katanya.
“Jaga nama baik Indonesia, jaga marwah Aceh,
dan harumkan nama kita di Negeri Ginseng,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Persatuan
Aceh Seranto, Ahyar Kamil, menyampaikan apresiasi atas komitmen Pemerintah Aceh
yang terus memberikan dukungan terhadap pelestarian dan promosi budaya daerah.
“Kita sangat mendukung.
Kebudayaan adalah identitas, dan sudah sepatutnya mendapat perhatian serius
dari semua pihak,” ujarnya.
“Aceh memiliki kekayaan budaya luar biasa
seperti Saman, Ratoh Jaroe, hingga Guel. Semua ini adalah aset besar yang harus
terus kita perkenalkan ke dunia,” katanya.
Dukungan juga datang dari kalangan pelajar.
Perwakilan dari 10 sekolah di DKI Jakarta, Indah Nuhyatia dari SMKN 74 Jakarta,
menyampaikan rasa bangga dan harapannya atas keberangkatan tim yang akan
membawa nama Aceh dan Indonesia di ajang internasional tersebut.
“Festival ini diikuti oleh 13
negara. Dari Indonesia, yang tampil adalah Saman dari Aceh. Kita berharap ke
depan seni-seni Aceh lainnya juga mendapat kesempatan serupa,” jelasnya.
Ia turut menyampaikan apresiasi dan terima
kasih kepada Gubernur Aceh, Wakil Gubernur Aceh, Sekretaris Daerah Aceh, serta
Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh yang telah memberikan dukungan penuh terhadap
keberangkatan delegasi tersebut.
“Ini bukti kesungguhan Pemerintah Aceh dalam memajukan dan menginternasionalkan Saman,” ujarnya.
Keberangkatan Tim Tari Saman ke
Korea Selatan sepenuhnya difasilitasi oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Pemuda
dan Olahraga Aceh sebagai bagian dari komitmen memperkuat diplomasi budaya,
melestarikan warisan budaya Aceh, serta memperkenalkan kekayaan seni dan
tradisi Aceh di panggung dunia. (LEP)
Tari Saman Aceh Tampil di Korea Selatan pada The 2nd Busan International Dance Festival 2026
Minggu, 24 Mei 2026
Bombardir Isu Komunis Dinilai Mengkerdilkan NKRI dan Mengaburkan Persatuan Bangsa
BY GentaraNews
Jakarta — Penulis dan pemerhati kebangsaan, Robertho Manurung, menilai bahwa bombardir isu komunisme yang berkembang di tengah masyarakat justru tanpa disadari telah mengkerdilkan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Rabu, 20 Mei 2026
Indonesia Dilanda Krisis Sosial Politik
BY GentaraNews
Indonesia saat ini dinilai tengah menghadapi krisis sosial politik (sospol) yang semakin kompleks dan membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen bangsa. Kondisi tersebut dinilai bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut arah kebijakan sosial dan politik yang dinilai belum sepenuhnya tepat sasaran.
Menurut pengamat sosial politik sekaligus mantan aktivis dan birokrat, Robertho Manurung, berbagai program subsidi dan bantuan gratis yang selama ini digulirkan pemerintah kerap kali hanya menjadi fenomena politik semata tanpa menyentuh akar persoalan masyarakat secara menyeluruh.
“Bantuan sosial dan subsidi jangan hanya menjadi ‘lipstik politik’. Jika tidak tepat sasaran, maka hanya akan melahirkan ketergantungan dan memperbesar beban ekonomi negara,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya tradisi hidup bergantung pada utang, baik dalam skala individu maupun negara. Akibatnya, muncul istilah “gali lubang tutup lubang” yang mencerminkan lemahnya ketahanan ekonomi nasional.
Selain itu, Robertho juga menyoroti kondisi politik nasional yang dinilai semakin dipengaruhi kepentingan kelompok dan koalisi partai. Menurutnya, jabatan strategis di pemerintahan seharusnya lebih banyak diisi oleh kalangan profesional, akademisi, dan ilmuwan yang memiliki kapasitas dan kompetensi di bidangnya.
“Banyak tokoh profesional dan akademisi yang sebenarnya mampu berkontribusi untuk bangsa, namun sering kali tersisih oleh kepentingan politik praktis dan pembagian kekuasaan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa target kebijakan sosial politik pemerintah harus diarahkan secara jelas kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan, terutama di wilayah desa, daerah pertanian, serta kawasan 3T (terluar, terdepan, dan tertinggal).
Menurutnya, apabila bantuan sosial maupun kebijakan politik tidak berpihak kepada sektor-sektor mendasar tersebut, maka dampaknya akan sangat besar terhadap masa depan bangsa, khususnya di sektor perekonomian dan kesejahteraan generasi penerus.
“Jika persoalan mendasar ini tidak segera dibenahi, maka negara akan menghadapi dampak multidimensi yang bisa menjadi beban berat bagi generasi mendatang,” tutupnya. (*)
(Penulis: Robertho)




