Baca Juga

Kamis, 04 Juni 2026

Tari Nusantara: Cermin Nilai Luhur Budaya dan Islam yang Membumi

BY GentaraNews IN , ,

Jakarta - Indonesia dikenal sebagai negeri dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Dari Sabang hingga Merauke, setiap daerah memiliki tradisi seni yang tidak hanya memancarkan keindahan estetika, tetapi juga menyimpan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu warisan budaya yang paling kaya makna adalah tari tradisional Nusantara.

Bagi masyarakat Indonesia, tari bukan sekadar rangkaian gerak yang indah dipandang mata. Tari merupakan media pendidikan budaya yang mengajarkan cara hidup yang halus, rukun, harmonis, dan selaras dengan lingkungan sekitar. Dalam setiap gerakan, irama, busana, dan tata penyajiannya tersimpan pesan moral yang membentuk karakter masyarakat.

Tari tradisional Nusantara sesungguhnya dapat diibaratkan sebagai “buku kehidupan” yang merekam kebijaksanaan para leluhur. Nilai-nilai seperti gotong royong, kebersamaan, penghormatan kepada sesama, kedisiplinan, hingga kecintaan terhadap tanah air tercermin dalam berbagai bentuk tarian daerah.

Nilai gotong royong dan kebersamaan tampak jelas dalam tari-tari kelompok seperti Tari Saman dari Aceh, Tari Jaipong dari Jawa Barat, maupun Tari Gandrung dari Banyuwangi. Tarian-tarian tersebut menuntut kekompakan, keselarasan gerak, dan kemampuan bekerja sama. Tidak ada ruang bagi sikap individualistis karena keberhasilan pertunjukan ditentukan oleh kebersamaan seluruh penarinya.

Nilai kesopanan dan penghormatan juga menjadi ciri khas berbagai tari tradisional Indonesia. Gerakan menunduk, sembah, dan gestur tangan yang lembut dalam Tari Bedoyo, Tari Serimpi, maupun Tari Pendet mengajarkan pentingnya adab terhadap sesama manusia, penghormatan kepada tamu, penghargaan terhadap alam, serta rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Selain itu, banyak tarian Nusantara yang lahir dari inspirasi alam. Gerakan yang meniru burung, ombak, angin, maupun hewan menunjukkan pandangan hidup masyarakat Indonesia yang memandang manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasanya. Nilai keselarasan ini menjadi pengingat penting di tengah berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi dunia saat ini.

Tari juga menjadi sarana spiritual yang menghubungkan manusia dengan nilai-nilai transendental. Berbagai tarian sakral yang berkembang di Nusantara sejak masa lampau digunakan sebagai media ungkapan syukur, doa, dan harapan. Seni pertunjukan menjadi bagian dari perjalanan batin manusia dalam mencari makna kehidupan.

Di sisi lain, proses latihan yang panjang untuk menguasai berbagai tarian tradisional mengajarkan kedisiplinan, kesabaran, serta tanggung jawab dalam menjaga warisan budaya. Seorang penari tidak hanya dituntut menguasai gerakan, tetapi juga memahami nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Keberagaman tari daerah juga memperkuat identitas kebangsaan. Setiap tarian menjadi simbol kebanggaan masyarakat terhadap akar budayanya. Melalui tari, masyarakat dapat memperkenalkan jati diri daerahnya tanpa harus meninggalkan semangat persatuan sebagai bangsa Indonesia.

Menariknya, perkembangan tari Nusantara juga menunjukkan proses akulturasi yang harmonis antara budaya lokal dan ajaran Islam. Sejarah mencatat bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui jalur damai, perdagangan, pendidikan, dan kebudayaan. Karena itu, nilai-nilai Islam tidak hadir dengan menghapus tradisi lokal, melainkan berinteraksi secara alami dan memperkaya makna budaya yang sudah ada.

Hal tersebut dapat dilihat secara nyata pada Tari Saman dan Tari Seudati dari Aceh. Kedua tarian ini sarat dengan unsur zikir, dakwah, dan nilai tauhid. Syair-syair yang dilantunkan mengandung pesan keagamaan, sementara pola gerak yang kompak mencerminkan kesetaraan dan persaudaraan dalam Islam.

Nilai adab dan akhlakul karimah juga tampak dalam Tari Zapin Melayu yang berkembang di berbagai wilayah Nusantara. Gerakannya lembut, santun, dan penuh penghormatan. Busana yang digunakan pun mencerminkan prinsip kesopanan yang menjadi bagian dari ajaran Islam.

Proses Islamisasi budaya juga mengubah orientasi sejumlah tradisi dari unsur ritual lama menjadi ungkapan syukur dan doa kepada Allah SWT tanpa menghilangkan nilai seni yang terkandung di dalamnya. Dengan cara demikian, budaya tetap lestari, sementara nilai keagamaan semakin menguat.

Nilai ukhuwah atau persaudaraan tercermin dalam berbagai tari kelompok yang menuntut kebersamaan dan kekompakan. Tidak ada ruang bagi sikap merasa paling hebat, karena setiap penari merupakan bagian dari satu kesatuan yang saling melengkapi.

Lebih dari itu, seni tari juga menjadi media dakwah yang efektif. Para ulama dan penyebar Islam di Nusantara memanfaatkan kesenian sebagai sarana menyampaikan pesan moral dan keagamaan kepada masyarakat. Pendekatan budaya tersebut terbukti mampu menghadirkan dakwah yang santun, damai, dan mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.

Tari Nusantara pada akhirnya menjadi bukti bahwa budaya dan agama dapat berjalan beriringan. Islam hadir sebagai nilai yang membimbing, sementara budaya menjadi wadah yang memperkaya ekspresi kehidupan masyarakat. Dari perpaduan itulah lahir peradaban yang ramah, membumi, dan tetap berakar kuat pada identitas lokal.

Melestarikan tari tradisional berarti menjaga warisan kebijaksanaan para leluhur sekaligus merawat nilai-nilai luhur yang membentuk karakter bangsa. Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, tari Nusantara tetap menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tidak hanya indah untuk dipertontonkan, tetapi juga kaya akan pelajaran kehidupan.




Penulis: Le Putra

Tokoh Literasi Budaya

Rabu, 03 Juni 2026

Pemerintah Aceh Lepas Delegasi Tari Saman Ke Korea Selatan, Bawa Misi Diplomasi Budaya Di Festival Internasional

BY GentaraNews IN



Jakarta – Pemerintah Aceh secara resmi melepas keberangkatan Tim Tari Saman ke Korea Selatan untuk mengikuti The 2nd Busan International Dance Festival 2026” yang berlangsung pada 5–9 Juni 2026. Prosesi pelepasan dilaksanakan di Aula Kantor Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Pelepasan dipimpin langsung oleh Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh, Said Marzuki, S.IP M.Si yang mewakili Pemerintah Aceh. Momentum tersebut ditandai dengan pengenaan jaket kepada Ketua Duta Saman Institut, Aminullah Adnan, yang kemudian diikuti secara simbolis oleh seluruh anggota delegasi.

Acara berlangsung khidmat dan penuh haru. Hadir dalam kesempatan itu para guru, orang tua anggota tim Saman, Ketua Persatuan Aceh Seranto Ahyar Kamil, SH, Penasihat Lembaga Seni Budaya Gayo Aceh (Lesbuga) Hasan Daling, Pembina Lesbuga Alwien Desry, serta sejumlah tokoh masyarakat Aceh di Jakarta dan tokoh literasi budaya Le Putra.

Dalam sambutannya, Said Marzuki menyampaikan bahwa “keberangkatan Tim Tari Saman merupakan momentum istimewa karena Aceh mendapat kepercayaan untuk mewakili Indonesia di panggung budaya internasional”.

“Patut kita syukuri, di tengah kondisi musibah banjir yang melanda, Pemerintah Aceh tetap memberi perhatian besar pada kebudayaan. Ini merupakan arahan langsung Gubernur Aceh melalui Sekretaris Daerah agar tim Saman dapat berangkat ke Korea Selatan,” ujarnya.

Keikutsertaan Tari Saman dalam ajang internasional bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari diplomasi budaya untuk memperkenalkan Aceh kepada masyarakat dunia”, tambah Said Marzuki

“Promosi melalui seni budaya jauh lebih elegan dan menyentuh. Dunia akan mengenal Aceh melalui keindahan dan kekayaan tradisinya, pesan Gubernur Aceh kepada seluruh delegasi agar menjaga nama baik daerah dan bangsa selama berada di luar negeri” katanya.

“Jaga nama baik Indonesia, jaga marwah Aceh, dan harumkan nama kita di Negeri Ginseng,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Persatuan Aceh Seranto, Ahyar Kamil, menyampaikan apresiasi atas komitmen Pemerintah Aceh yang terus memberikan dukungan terhadap pelestarian dan promosi budaya daerah.

“Kita sangat mendukung. Kebudayaan adalah identitas, dan sudah sepatutnya mendapat perhatian serius dari semua pihak,” ujarnya.

Penasihat Lesbuga, Drs. H. M Hasan Daling, berharap pengiriman delegasi seni Aceh ke berbagai forum internasional dapat menjadi agenda rutin setiap tahun.

“Aceh memiliki kekayaan budaya luar biasa seperti Saman, Ratoh Jaroe, hingga Guel. Semua ini adalah aset besar yang harus terus kita perkenalkan ke dunia,” katanya.

Dukungan juga datang dari kalangan pelajar. Perwakilan dari 10 sekolah di DKI Jakarta, Indah Nuhyatia dari SMKN 74 Jakarta, menyampaikan rasa bangga dan harapannya atas keberangkatan tim yang akan membawa nama Aceh dan Indonesia di ajang internasional tersebut.

Ketua Lesbuga, M. Aris, S.Pd, menjelaskan bahwa undangan resmi dari panitia Busan International Dance Festival tahun ini secara khusus ditujukan kepada Tari Saman melalui Lesbuga.

“Festival ini diikuti oleh 13 negara. Dari Indonesia, yang tampil adalah Saman dari Aceh. Kita berharap ke depan seni-seni Aceh lainnya juga mendapat kesempatan serupa,” jelasnya.

Ia turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Gubernur Aceh, Wakil Gubernur Aceh, Sekretaris Daerah Aceh, serta Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh yang telah memberikan dukungan penuh terhadap keberangkatan delegasi tersebut.

“Ini bukti kesungguhan Pemerintah Aceh dalam memajukan dan menginternasionalkan Saman,” ujarnya.

Keberangkatan Tim Tari Saman ke Korea Selatan sepenuhnya difasilitasi oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh sebagai bagian dari komitmen memperkuat diplomasi budaya, melestarikan warisan budaya Aceh, serta memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi Aceh di panggung dunia. (LEP)



 

Tari Saman Aceh Tampil di Korea Selatan pada The 2nd Busan International Dance Festival 2026

BY GentaraNews IN ,



JAKARTA – Tari Saman, warisan budaya kebanggaan Aceh, akan tampil mewakili Indonesia dalam ajang The 2nd Busan International Dance Festival 2026 yang berlangsung di Busan, Korea Selatan, pada 5–9 Juni 2026. Delegasi Tari Saman dilepas secara resmi oleh Pemerintah Aceh di Aula Kantor Penghubung Pemerintah Aceh, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Festival tari internasional tersebut diikuti oleh perwakilan dari 13 negara. Dari Indonesia, Tari Saman asal Aceh menjadi satu-satunya pertunjukan seni yang mendapat kehormatan tampil dalam ajang bergengsi tersebut, sekaligus membawa nama Indonesia dan Aceh ke panggung budaya dunia.

Keikutsertaan delegasi Tari Saman pada festival internasional ini menjadi momentum penting dalam memperkenalkan kekayaan budaya Aceh kepada masyarakat global. Tari Saman yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak oleh UNESCO pada tahun 2011 terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu identitas budaya Indonesia yang dikenal luas di tingkat internasional.

Acara pelepasan turut dihadiri para pelatih, orang tua anggota delegasi, Ketua Persatuan Aceh Seranto Ahyar Kamil, Penasihat Lesbuga Hasan Daling, Pembina Lesbuga Alwien Desry, SH, MH, tokoh masyarakat Aceh di Jakarta, serta tokoh literasi budaya, Le Putra.

Pembina Lesbuga, Alwien Desry, SH, MH, yang juga pengacara senior dari Alwien Desry & Partners Law Firm, menjelaskan bahwa seluruh kebutuhan dan biaya perjalanan delegasi difasilitasi oleh Pemerintah Aceh. Dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat diplomasi budaya sekaligus mempromosikan citra positif Aceh di tingkat internasional.

Menurut Alwien, kehadiran delegasi Tari Saman di Korea Selatan bukan sekadar menampilkan pertunjukan seni, melainkan juga memperkenalkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya kepada masyarakat dunia.

“Tari Saman tidak hanya dikenal karena keindahan gerakan dan kekompakannya, tetapi juga karena nilai-nilai filosofis, keagamaan, pendidikan, dan kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Inilah yang ingin kita perkenalkan kepada dunia,” ujarnya.

Ia juga berpesan kepada seluruh anggota delegasi agar menjaga kesehatan, disiplin, dan kualitas penampilan selama mengikuti festival.

“Jaga selalu performa dan kebugaran. Tampilkan yang terbaik untuk masyarakat dan Pemerintah Kota Busan. Jadikan Tari Saman sebagai pertunjukan yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi setiap penonton,” pesannya.

Keikutsertaan delegasi Tari Saman dalam The 2nd Busan International Dance Festival 2026 diharapkan semakin memperkuat posisi Tari Saman sebagai ikon budaya Aceh di kancah internasional sekaligus menjadi jembatan persahabatan antarnegara melalui seni dan budaya, serta memperkenalkan nilai-nilai kearifan lokal Aceh kepada masyarakat dunia. (LEP)

Minggu, 24 Mei 2026

Bombardir Isu Komunis Dinilai Mengkerdilkan NKRI dan Mengaburkan Persatuan Bangsa

BY GentaraNews


Jakarta — Penulis dan pemerhati kebangsaan, Robertho Manurung, menilai bahwa bombardir isu komunisme yang berkembang di tengah masyarakat justru tanpa disadari telah mengkerdilkan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurutnya, berbagai persoalan mendasar bangsa seperti lemahnya penegakan hukum, meningkatnya utang negara, hingga melemahnya sejumlah lembaga negara, seolah tertutupi oleh polemik ideologi yang terus dipertentangkan.
"Kerusakan institusi seperti KPK, KPU, hingga melemahnya fungsi Kesbangpol dalam melakukan pengawasan terhadap potensi bangkitnya ideologi terlarang menjadi perhatian serius. Ia menilai kondisi tersebut perlu disikapi dengan bijaksana agar tidak semakin memperuncing perpecahan di tengah masyarakat", jelas Robertho
“Koalisi partai politik seharusnya dibangun setelah pemilu sebagai bentuk konsolidasi demokrasi, bukan justru mengaburkan arah perjuangan politik rakyat. Selain itu, penghapusan berbagai perda di daerah juga dinilai telah melemahkan semangat otonomi daerah sehingga pemerataan pembangunan menjadi semakin jauh dari harapan,” ujar Robertho.
"Tanda-tanda perpecahan sosial di tengah masyarakat saat ini menunjukkan perlunya kewaspadaan dini seluruh elemen bangsa. Ia menilai isu komunisme kerap dimunculkan tanpa pemahaman sejarah yang utuh sehingga memicu kebingungan publik", tegas Robertho.

Robertho juga menyinggung keberadaan Keputusan Presiden Nomor 17 yang menurutnya memunculkan persepsi bahwa kelompok yang terkait dengan komunisme pada peristiwa 1965 seolah ditempatkan sebagai korban. Karena itu, ia menilai regulasi tersebut perlu ditinjau kembali agar tidak menimbulkan interpretasi yang membingungkan masyarakat.
Berdasarkan pengalamannya saat bertugas di Jawa Tengah dan kemudian di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Robertho mengaku pernah merasakan langsung dinamika pengawasan terhadap potensi penyebaran ideologi terlarang. Ia juga menyinggung peristiwa terbakarnya kantor Kesbangpol di Semarang yang disebut turut menghilangkan berbagai data penting terkait daftar organisasi terlarang.
Sebagai pemegang sertifikat Organ LITSUS dari BAKORSTANAS, Robertho menyatakan bahwa hingga menjelang masa pensiun dirinya masih menjalankan tugas pengawasan sesuai fungsi dan tugas Kesbangpol. Bahkan, menurutnya, aparat TNI yang hendak menikah pada masa tertentu juga masih melalui proses pengawasan terkait kemungkinan keterkaitan dengan latar belakang ideologi masa lalu.
Robertho berharap masyarakat tetap menjaga persatuan nasional, meningkatkan kewaspadaan dini, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah belah bangsa. Ia menegaskan bahwa semangat kebangsaan dan persatuan harus tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga keutuhan NKRI.

Penulis:
Robertho Manurung (Pemerhati Kebangsaan


Rabu, 20 Mei 2026

Indonesia Dilanda Krisis Sosial Politik

BY GentaraNews


Indonesia saat ini dinilai tengah menghadapi krisis sosial politik (sospol) yang semakin kompleks dan membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen bangsa. Kondisi tersebut dinilai bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut arah kebijakan sosial dan politik yang dinilai belum sepenuhnya tepat sasaran.

Menurut pengamat sosial politik sekaligus mantan aktivis dan birokrat, Robertho Manurung, berbagai program subsidi dan bantuan gratis yang selama ini digulirkan pemerintah kerap kali hanya menjadi fenomena politik semata tanpa menyentuh akar persoalan masyarakat secara menyeluruh.

“Bantuan sosial dan subsidi jangan hanya menjadi ‘lipstik politik’. Jika tidak tepat sasaran, maka hanya akan melahirkan ketergantungan dan memperbesar beban ekonomi negara,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya tradisi hidup bergantung pada utang, baik dalam skala individu maupun negara. Akibatnya, muncul istilah “gali lubang tutup lubang” yang mencerminkan lemahnya ketahanan ekonomi nasional.

Selain itu, Robertho juga menyoroti kondisi politik nasional yang dinilai semakin dipengaruhi kepentingan kelompok dan koalisi partai. Menurutnya, jabatan strategis di pemerintahan seharusnya lebih banyak diisi oleh kalangan profesional, akademisi, dan ilmuwan yang memiliki kapasitas dan kompetensi di bidangnya.

“Banyak tokoh profesional dan akademisi yang sebenarnya mampu berkontribusi untuk bangsa, namun sering kali tersisih oleh kepentingan politik praktis dan pembagian kekuasaan,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa target kebijakan sosial politik pemerintah harus diarahkan secara jelas kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan, terutama di wilayah desa, daerah pertanian, serta kawasan 3T (terluar, terdepan, dan tertinggal).

Menurutnya, apabila bantuan sosial maupun kebijakan politik tidak berpihak kepada sektor-sektor mendasar tersebut, maka dampaknya akan sangat besar terhadap masa depan bangsa, khususnya di sektor perekonomian dan kesejahteraan generasi penerus.

“Jika persoalan mendasar ini tidak segera dibenahi, maka negara akan menghadapi dampak multidimensi yang bisa menjadi beban berat bagi generasi mendatang,” tutupnya. (*)


(Penulis: Robertho)

Tutorial BloggingTutorial BloggingBlogger Tricks

Baca Juga