Jakarta – Hari ini menjadi tonggak sejarah bagi ketahanan energi nasional. Presiden Prabowo Subianto secara resmi memimpin peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek raksasa Blok Abadi Masela di lepas pantai Maluku. Setelah terhambat selama 26 tahun akibat dinamika skema pengembangan, birokrasi, dan perubahan komposisi investor, proyek senilai 20,94 miliar dolar AS atau setara 342 triliun rupiah ini akhirnya bergerak menuju realisasi. Jakarta (17/7/2026)
Proyek yang diproyeksikan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun atau setara 450 ribu MMSCFD ini diharapkan menjadi tulang punggung swasembada energi nasional pada tahun 2029. Namun di saat sorotan bangsa tertuju pada Indonesia Timur, sebuah potensi energi raksasa lainnya sedang menanti arah di ujung barat Nusantara: Blok Andaman di lepas pantai Aceh.
Dikembangkan secara kolaborasi oleh Mubadala Energy dan Harbour Energy, Blok Andaman disebut-sebut sebagai penemuan cadangan gas terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Pertanyaan mendasar pun muncul: haruskah Andaman terjebak dalam penantian panjang seperti Masela, atau bisa menjadi "keajaiban kedua" yang berjalan jauh lebih cepat?
Kaca Spion Masela: Perbandingan Dua Pilar Energi
Blok Masela dan Blok Andaman sama-sama memegang peran krusial dalam peta jalan energi nasional, namun memiliki karakteristik yang berbeda:
- Lokasi & Teknologi: Masela berada di perairan dalam (deepwater) 300–800 meter, menggabungkan fasilitas pengolahan di laut dengan pabrik LNG darat di Pulau Yamdena. Sebaliknya, Andaman berada di perairan sangat dalam (ultra-deepwater) lebih dari 1.200 meter yang menuntut teknologi paling mutakhir dan risiko investasi yang lebih tinggi.
- Pengembang & Skema: Masela dikelola konsorsium Inpex, Pertamina Hulu Energi, dan Petronas dengan skema bagi hasil tradisional Cost Recovery. Sementara Andaman dikendalikan oleh investor global dengan kekuatan keuangan kuat melalui skema Gross Split yang lebih fleksibel.
- Dampak Ekonomi: Masela diproyeksikan menyerap 35.000 tenaga kerja dan menyuplai kebutuhan LPG nasional. Andaman menjadi kunci kebangkitan Kawasan Ekonomi Khusus Arun, menghidupkan industri hilir di Sumatera, serta membuka peluang ekspor.
Kedua proyek sama-sama menerapkan teknologi ramah lingkungan Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung target Net Zero Emisi, serta membawa dampak pengganda besar bagi kesejahteraan masyarakat lokal.
Pelajaran Mahal: Jangan Ulangi Kesalahan Masa Lalu
Keterlambatan lebih dari seperempat abad pada Masela memberikan pelajaran berharga bagi pengelolaan Blok Andaman:
1. Kepastian Rencana Sejak Awal: Perdebatan berkepanjangan soal lokasi pengolahan darat atau laut di Masela tidak boleh terulang. Keputusan teknis harus diambil tuntas tanpa campur tangan politik yang kontraproduktif.
2. Percepatan Menuju Keputusan Investasi Akhir: Keberhasilan Masela bergerak cepat dari kesepakatan di Tokyo bulan Maret hingga peresmian hari ini membuktikan kecepatan langkah menuju FID adalah kunci utama.
3. Jaminan Kepastian Investasi: Hubungan strategis yang erat antara Indonesia dengan Uni Emirat Arab harus dirawat dengan kebijakan ramah investasi, agar komitmen Mubadala Energy dan Harbour Energy tidak beralih ke proyek lain di negara saingan.
Langkah Strategis: Mempercepat "Keajaiban Kedua"
Penulis yang juga Sekretaris Jenderal Diaspora Global Aceh dan Ketua Pusat Studi Energi Terbarukan Indonesia (ICRES), Surya Darma, menekankan perlunya instruksi khusus dari Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong Blok Andaman, dengan fokus pada tiga pilar utama:
1. Integrasi Hilirisasi Hijau: Gas Andaman tidak boleh hanya diekspor sebagai bahan mentah, melainkan menjadi bahan baku utama industri petrokimia, amonia hijau, dan pupuk ramah lingkungan di KEK Arun.
2. Terobosan Regulasi Khusus: Pemerintah perlu memberikan insentif khusus untuk eksplorasi perairan sangat dalam, mempercepat persetujuan rencana pengembangan, serta menjamin harga gas yang kompetitif untuk kebutuhan domestik.
3. Kesiapan Infrastruktur & Daerah: Memastikan kesiapan pipa transmisi dan terminal penerima gas, serta menyelesaikan hak partisipasi pemerintah daerah secara transparan.
Di tingkat daerah, peran Gubernur Aceh Muzakir Manaf sangat sentral untuk mengubah hubungan kedekatan dengan Presiden menjadi kebijakan nyata bagi Aceh. Sementara itu, perguruan tinggi di Aceh harus segera menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri, membangun riset bersama pengembang, serta menjadi jembatan kepercayaan antara masyarakat dan proyek.
Penutup
Keberhasilan Masela membuktikan Indonesia mampu menuntaskan proyek energi besar. Kini saatnya membuktikan bahwa kita juga mampu belajar dari pengalaman, sehingga Blok Andaman tidak menjadi cerita penantian lain, melainkan bukti tata kelola energi yang cepat, adil, dan berkelanjutan.
Apakah pemerintah siap menerapkan formula kecepatan yang sama untuk Andaman? Pertanyaan ini menunggu jawaban nyata dalam waktu dekat.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Pusat Studi Energi Terbarukan Indonesia (ICRES)
Diaspora Global Aceh
16 Juli 2026












