Baca Juga

Kamis, 23 Juli 2026

Tingginya Permintaan Narkotika Harus Dijawab dengan Penguatan Pencegahan Melalui Program "Ananda Bersinar"

BY GentaraNews IN ,



Jakarta – Masih maraknya pengungkapan kasus peredaran gelap narkotika di Indonesia menunjukkan bahwa tingkat permintaan (demand) terhadap narkotika masih tinggi. Kondisi ini menjadi peringatan bahwa upaya pemberantasan tidak cukup hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga harus diperkuat dengan strategi pencegahan yang menyentuh akar permasalahan.

Berdasarkan hasil Survei Prevalensi Penyalahgunaan Narkoba periode 2023–2025, angka penyalahguna narkotika di Indonesia mencapai 2,11 persen atau setara dengan sekitar 4,15 juta penduduk. Sementara itu, sepanjang 11 bulan tahun 2025, Polri menerima 43.899 laporan kasus narkoba, menjadikannya jenis kejahatan dengan jumlah laporan terbanyak kedua di Indonesia.

Di sisi lain, Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) berhasil mengungkap 746 kasus narkotika, membongkar 42 jaringan yang terdiri dari 33 jaringan nasional dan 9 jaringan internasional, serta mengamankan 1.174 tersangka. Barang bukti yang berhasil disita meliputi lebih dari 4 ton sabu-sabu, 2 ton ganja, ratusan ribu butir ekstasi, kokain, serta pemusnahan ladang ganja seluas 127.000 meter persegi.

Dalam aspek pemulihan, lebih dari 52.000 penyalahguna narkotika telah memperoleh layanan asesmen dan rehabilitasi sebagai bagian dari upaya penyelamatan generasi bangsa.

Menanggapi kondisi tersebut, aktivis anti narkoba Le Putra menilai bahwa tingginya angka pengungkapan kasus mencerminkan masih besarnya permintaan terhadap narkotika di masyarakat. Karena itu, strategi pencegahan harus menjadi prioritas utama melalui pendekatan yang menyasar generasi muda sejak dini.

Menurut Le Putra, Program "Ananda Bersinar" merupakan transformasi strategi pencegahan BNN yang menempatkan anak sebagai subjek utama perlindungan. Program ini dirancang untuk membangun karakter, memperkuat ketahanan diri, meningkatkan kecakapan hidup, menanamkan literasi tentang bahaya narkotika, serta memperkuat peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.

Program Ananda Bersinar menargetkan anak-anak, remaja, dan pelajar sebagai kelompok utama yang harus dipersiapkan menjadi generasi yang tangguh dan bebas dari penyalahgunaan narkotika.

"Ananda Bersinar kami rancang agar berjalan searah dengan agenda besar pembangunan sumber daya manusia yang dipimpin oleh Bapak Presiden. Sebab, anak yang sehat secara fisik, tercukupi gizinya, dan memperoleh pendidikan yang baik, tetapi tidak memiliki daya tangkal terhadap narkotika, tetap berada dalam risiko kehilangan masa depannya," ujar Le Putra.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan perang melawan narkotika tidak hanya diukur dari banyaknya jaringan yang berhasil diungkap aparat penegak hukum, tetapi juga dari semakin sedikitnya generasi muda yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, keluarga, sekolah, masyarakat, dunia usaha, media, dan seluruh elemen bangsa menjadi kunci untuk menurunkan permintaan (demand) sekaligus mewujudkan Indonesia yang bersih dari narkotika.

Rabu, 22 Juli 2026

Khaidir Abdurrahman Konsisten Perjuangkan Masa Depan Generasi Muda Aceh

BY GentaraNews

Jakarta – Kepedulian terhadap generasi muda, khususnya dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, menjadi salah satu karakter yang melekat pada sosok Khaidir Abdulrahman, S.IP., M.A.P. Hal tersebut disampaikan oleh Le Putra, Wakil Ketua Umum Gema Nusantara Anti Narkoba (Gentara), berdasarkan pengalamannya mengenal dan berinteraksi langsung dengan Khaidir Abdulrahman selama bertahun-tahun. Rabu (22/7/2026)

Le Putra mengungkapkan bahwa dirinya mulai mengenal Khaidir Abdurrahman ketika menjabat sebagai Anggota DPRK Aceh Utara. Hubungan keduanya semakin erat saat Khaidir mengemban amanah sebagai Anggota DPR RI periode 2014–2019. Kedekatan tersebut terus terjalin melalui organisasi paguyuban masyarakat Aceh Utara, Pase Serantau Aceh Utara, yang menjadi wadah silaturahmi sekaligus pengabdian bagi masyarakat Aceh di perantauan.

"Sepanjang yang saya kenal, beliau merupakan sosok yang memiliki kepedulian besar terhadap masa depan generasi muda Aceh, terutama mereka yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba," ujar Le Putra.

Menurutnya, Khaidir Abdurrahman selalu memandang bahwa penyalahguna narkoba pada hakikatnya adalah korban yang membutuhkan pertolongan dan pemulihan, bukan semata-mata pelaku tindak pidana yang harus dihukum. Oleh karena itu, ia secara konsisten mendorong pendekatan rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial sebagai solusi yang lebih manusiawi dan efektif untuk mengembalikan para korban agar dapat menjalani kehidupan yang produktif.

Komitmen tersebut, lanjut Le Putra, tidak berhenti pada tataran pemikiran. Dalam berbagai kesempatan, Khaidir aktif memberikan konseling, motivasi, serta pembinaan moral kepada generasi muda Aceh agar menjauhi penyalahgunaan narkoba. Bahkan, bagi mereka yang sedang berhadapan dengan proses hukum akibat penyalahgunaan narkoba, Khaidir turut memberikan pendampingan dan advokasi agar penyelesaiannya mengedepankan mekanisme rehabilitasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

"Beliau ingin para korban tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, kembali ke keluarga, dan menjadi bagian yang produktif dalam masyarakat," katanya.

Le Putra menambahkan, bagi Khaidir Abdurrahman, generasi muda merupakan generasi emas yang akan menentukan arah pembangunan Aceh pada masa mendatang. Atas dasar pemikiran tersebut, Khaidir terus berupaya membuka akses dan menciptakan berbagai peluang bagi pengembangan kapasitas anak-anak muda Aceh.

Komitmen itu juga tetap dijalankan ketika Khaidir mengemban amanah sebagai salah satu Direksi PT ASABRI (Persero). Pada masa tersebut, ia memfasilitasi banyak pemuda Aceh untuk mengikuti berbagai program pelatihan dan peningkatan keterampilan, baik di Medan maupun di Jakarta.

Selain itu, Khaidir Abdurrahman juga menjalin kerja sama dengan OISCA International Japan, sebuah organisasi non-pemerintah asal Jepang, guna membuka kesempatan bagi pemuda Aceh mengikuti program magang di Jepang selama dua hingga tiga tahun. Program tersebut dinilai menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kompetensi, kedisiplinan, etos kerja, serta daya saing generasi muda Aceh di tingkat internasional. Mereka diharapkan menjadi pelopor penggerak pembangunan  sekembalinya ke Indonesia. 

"Bagi saya, dedikasi Khaidir Abdulrahman menunjukkan bahwa kepedulian terhadap generasi muda bukan sekadar wacana. Beliau membuktikannya melalui pembinaan, pendampingan, pemberdayaan, hingga membuka akses terhadap berbagai peluang agar anak-anak muda Aceh memiliki masa depan yang lebih baik," tutup Le Putra.


Jumat, 17 Juli 2026

Menanti 'Keajaiban Kedua': Mengapa Blok Andaman Harus Belajar dari Drama 26 Tahun Masela?

BY GentaraNews IN ,



Jakarta – Hari ini menjadi tonggak sejarah bagi ketahanan energi nasional. Presiden Prabowo Subianto secara resmi memimpin peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek raksasa Blok Abadi Masela di lepas pantai Maluku. Setelah terhambat selama 26 tahun akibat dinamika skema pengembangan, birokrasi, dan perubahan komposisi investor, proyek senilai 20,94 miliar dolar AS atau setara 342 triliun rupiah ini akhirnya bergerak menuju realisasi. Jakarta (17/7/2026)

Proyek yang diproyeksikan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun atau setara 450 ribu MMSCFD ini diharapkan menjadi tulang punggung swasembada energi nasional pada tahun 2029. Namun di saat sorotan bangsa tertuju pada Indonesia Timur, sebuah potensi energi raksasa lainnya sedang menanti arah di ujung barat Nusantara: Blok Andaman di lepas pantai Aceh.

Dikembangkan secara kolaborasi oleh Mubadala Energy dan Harbour Energy, Blok Andaman disebut-sebut sebagai penemuan cadangan gas terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Pertanyaan mendasar pun muncul: haruskah Andaman terjebak dalam penantian panjang seperti Masela, atau bisa menjadi "keajaiban kedua" yang berjalan jauh lebih cepat?

Kaca Spion Masela: Perbandingan Dua Pilar Energi

Blok Masela dan Blok Andaman sama-sama memegang peran krusial dalam peta jalan energi nasional, namun memiliki karakteristik yang berbeda:

- Lokasi & Teknologi: Masela berada di perairan dalam (deepwater) 300–800 meter, menggabungkan fasilitas pengolahan di laut dengan pabrik LNG darat di Pulau Yamdena. Sebaliknya, Andaman berada di perairan sangat dalam (ultra-deepwater) lebih dari 1.200 meter yang menuntut teknologi paling mutakhir dan risiko investasi yang lebih tinggi.

- Pengembang & Skema: Masela dikelola konsorsium Inpex, Pertamina Hulu Energi, dan Petronas dengan skema bagi hasil tradisional Cost Recovery. Sementara Andaman dikendalikan oleh investor global dengan kekuatan keuangan kuat melalui skema Gross Split yang lebih fleksibel.

- Dampak Ekonomi: Masela diproyeksikan menyerap 35.000 tenaga kerja dan menyuplai kebutuhan LPG nasional. Andaman menjadi kunci kebangkitan Kawasan Ekonomi Khusus Arun, menghidupkan industri hilir di Sumatera, serta membuka peluang ekspor.

Kedua proyek sama-sama menerapkan teknologi ramah lingkungan Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung target Net Zero Emisi, serta membawa dampak pengganda besar bagi kesejahteraan masyarakat lokal.

Pelajaran Mahal: Jangan Ulangi Kesalahan Masa Lalu

Keterlambatan lebih dari seperempat abad pada Masela memberikan pelajaran berharga bagi pengelolaan Blok Andaman:

1. Kepastian Rencana Sejak Awal: Perdebatan berkepanjangan soal lokasi pengolahan darat atau laut di Masela tidak boleh terulang. Keputusan teknis harus diambil tuntas tanpa campur tangan politik yang kontraproduktif.

2. Percepatan Menuju Keputusan Investasi Akhir: Keberhasilan Masela bergerak cepat dari kesepakatan di Tokyo bulan Maret hingga peresmian hari ini membuktikan kecepatan langkah menuju FID adalah kunci utama.

3. Jaminan Kepastian Investasi: Hubungan strategis yang erat antara Indonesia dengan Uni Emirat Arab harus dirawat dengan kebijakan ramah investasi, agar komitmen Mubadala Energy dan Harbour Energy tidak beralih ke proyek lain di negara saingan.

Langkah Strategis: Mempercepat "Keajaiban Kedua"

Penulis yang juga Sekretaris Jenderal Diaspora Global Aceh dan Ketua Pusat Studi Energi Terbarukan Indonesia (ICRES), Surya Darma, menekankan perlunya instruksi khusus dari Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong Blok Andaman, dengan fokus pada tiga pilar utama:

1. Integrasi Hilirisasi Hijau: Gas Andaman tidak boleh hanya diekspor sebagai bahan mentah, melainkan menjadi bahan baku utama industri petrokimia, amonia hijau, dan pupuk ramah lingkungan di KEK Arun.

2. Terobosan Regulasi Khusus: Pemerintah perlu memberikan insentif khusus untuk eksplorasi perairan sangat dalam, mempercepat persetujuan rencana pengembangan, serta menjamin harga gas yang kompetitif untuk kebutuhan domestik.

3. Kesiapan Infrastruktur & Daerah: Memastikan kesiapan pipa transmisi dan terminal penerima gas, serta menyelesaikan hak partisipasi pemerintah daerah secara transparan.

Di tingkat daerah, peran Gubernur Aceh Muzakir Manaf sangat sentral untuk mengubah hubungan kedekatan dengan Presiden menjadi kebijakan nyata bagi Aceh. Sementara itu, perguruan tinggi di Aceh harus segera menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri, membangun riset bersama pengembang, serta menjadi jembatan kepercayaan antara masyarakat dan proyek.

Penutup

Keberhasilan Masela membuktikan Indonesia mampu menuntaskan proyek energi besar. Kini saatnya membuktikan bahwa kita juga mampu belajar dari pengalaman, sehingga Blok Andaman tidak menjadi cerita penantian lain, melainkan bukti tata kelola energi yang cepat, adil, dan berkelanjutan.

Apakah pemerintah siap menerapkan formula kecepatan yang sama untuk Andaman? Pertanyaan ini menunggu jawaban nyata dalam waktu dekat.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Pusat Studi Energi Terbarukan Indonesia (ICRES)

Diaspora Global Aceh

16 Juli 2026


Kamis, 16 Juli 2026

KEK Arun dan Blok Andaman Berpeluang Menjadi Episentrum Baru Ekonomi Hijau Indonesia

BY GentaraNews IN


Jakarta, 15 Juli 2026 – Pengembangan Blok Andaman dinilai memasuki fase yang semakin menjanjikan setelah proses persetujuan Plan of Development (POD) I berbasis Floating Production Storage and Offloading (FPSO) hampir rampung. Kepastian investasi juga semakin menguat seiring penandatanganan komitmen pembeli awal (offtaker) antara Mubadala Energy dan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) sebesar 160 MMSCFD.

Sekretaris Jenderal Diaspora Global Aceh sekaligus Ketua Pusat Studi Energi Terbarukan Indonesia (ICRES), Surya Darma, menilai bahwa fokus pembangunan seharusnya tidak lagi berkutat pada perdebatan mengenai lokasi pengolahan gas di laut atau di darat. Menurutnya, perhatian kini perlu diarahkan pada optimalisasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe sebagai pusat hilirisasi industri berbasis gas bumi.

"Momentum ini merupakan kesempatan emas untuk menghidupkan kembali KEK Arun sebagai pusat industri energi nasional dan penggerak ekonomi hijau Indonesia," ujar Surya Darma dalam opini yang disampaikan di Jakarta, Selasa (15/7/2026).

Menurutnya, penemuan cadangan gas raksasa di Blok Andaman, termasuk struktur Layaran dan Timpan yang diperkirakan memiliki potensi hingga 8–10 TCF, menjadi modal strategis untuk mendukung ketahanan energi nasional sekaligus membangun industri hilir berteknologi tinggi.

Surya menawarkan strategi pemanfaatan gas melalui empat pilar utama, yakni mendukung pasokan listrik nasional, menjamin keberlanjutan operasional PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), membangun industri kilang LPG guna mengurangi ketergantungan impor, serta mengembangkan industri masa depan seperti blue hydrogen, blue ammonia, dan petrokimia di kawasan KEK Arun.

Ia menjelaskan bahwa KEK Arun memiliki keunggulan kompetitif karena didukung infrastruktur eks LNG Arun yang masih layak digunakan, seperti pelabuhan laut dalam, tangki penyimpanan, serta fasilitas industri yang mampu menekan biaya investasi secara signifikan dibanding pembangunan kawasan baru.

Selain itu, keberadaan lapangan gas Arun yang telah habis produksi dinilai sangat potensial dimanfaatkan sebagai lokasi Carbon Capture and Storage (CCS). Teknologi tersebut memungkinkan emisi karbon hasil pengolahan gas ditangkap dan disimpan kembali di bawah permukaan bumi sehingga menghasilkan produk energi rendah karbon yang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar internasional.

Menurut Surya, pengembangan industri hilir di KEK Arun juga berpotensi menarik investasi bernilai miliaran dolar Amerika Serikat pada sektor blue ammonia, metanol rendah karbon, hingga petrokimia.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa terdapat sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi pemerintah agar investor bersedia merealisasikan investasi, antara lain kepastian pasokan dan harga gas jangka panjang, regulasi CCS yang jelas, paket insentif fiskal yang kompetitif, stabilitas keamanan dan kepastian tata ruang, serta adanya kontrak penjualan (offtake agreement) yang menjamin keberlanjutan pasar.

Sebagai langkah strategis, Surya mendorong pemerintah segera menyusun Masterplan Hilirisasi Terintegrasi Andaman–Arun yang dilengkapi dokumen Pre-Feasibility Study sebagai dasar promosi investasi kepada calon investor global.

Ia juga mengusulkan lima langkah prioritas pemerintah, yaitu mempercepat integrasi pengembangan hulu dan hilir, menetapkan kebijakan harga gas yang kompetitif, mempercepat regulasi CCS komersial, memberikan insentif khusus bagi industri hijau, serta memperkuat diplomasi energi melalui kerja sama perdagangan dengan negara-negara pengguna energi rendah karbon.

"Arun pernah menjadi salah satu pusat LNG terbesar di dunia. Kini Indonesia memperoleh kesempatan kedua melalui Blok Andaman. Tantangannya adalah memastikan gas tersebut tidak hanya dijual sebagai komoditas mentah, tetapi menjadi fondasi bagi pengembangan industri bernilai tambah tinggi dan penguatan ekonomi hijau nasional," tutup Surya Darma. (LEP)

Selasa, 14 Juli 2026

Siswa SLB Gianyar Tolak Narkoba

BY GentaraNews IN



Gianyar – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Gianyar melaksanakan kegiatan Sosialisasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SLB Negeri 1 Gianyar, Selasa (15/7). Kegiatan tersebut diikuti oleh 61 peserta didik dan menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran generasi muda akan pentingnya hidup sehat serta menjauhi penyalahgunaan narkoba sejak dini. Rabu (15 Juli 2026)

Kegiatan dipimpin langsung oleh Kepala BNN Kabupaten Gianyar, Sudirman, S.Ag., M.Si., yang menyampaikan materi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba sekaligus memberikan motivasi kepada para siswa agar terus percaya diri dalam mengembangkan potensi yang dimiliki.

Dalam penyampaiannya, Sudirman menegaskan bahwa kehadiran BNN Kabupaten Gianyar di lingkungan sekolah tidak hanya bertujuan memberikan edukasi tentang bahaya narkoba, tetapi juga untuk menumbuhkan semangat, harapan, dan rasa percaya diri kepada seluruh peserta didik. Dengan pendekatan yang hangat, komunikatif, dan penuh kepedulian, para siswa diajak memahami bahwa setiap anak memiliki kemampuan dan potensi luar biasa yang harus dijaga serta dikembangkan demi meraih masa depan yang lebih baik.

Pada kesempatan tersebut, I Gusti Putu Ariyani juga memberikan motivasi kepada para peserta. Ia menyampaikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Dengan semangat belajar, kedisiplinan, kerja keras, dan dukungan lingkungan yang positif, setiap anak memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang berprestasi serta membanggakan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Suasana kegiatan berlangsung hangat, interaktif, dan penuh keakraban. Para siswa mengikuti setiap sesi dengan antusias serta aktif berinteraksi selama penyampaian materi dan motivasi.

Melalui kegiatan ini, BNN Kabupaten Gianyar kembali menegaskan komitmennya untuk hadir sebagai mitra bagi dunia pendidikan. BNN tidak hanya berperan dalam memberikan edukasi mengenai bahaya narkoba, tetapi juga menjadi sahabat dan pendamping bagi generasi muda dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari penyalahgunaan narkoba.

BNN Kabupaten Gianyar berharap kegiatan sosialisasi P4GN di lingkungan sekolah dapat memperkuat karakter peserta didik, meningkatkan kepedulian terhadap bahaya narkoba, serta mendorong setiap anak untuk terus bermimpi, berkarya, dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki demi mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, tangguh, dan berprestasi. (LEP)




Tutorial BloggingTutorial BloggingBlogger Tricks

Baca Juga