Dalam rangkaian kegiatan Halal Bihalal (HBH) di Jakarta, Paguyuan Seuramo Syedara Lhokseumawe (SEUSAMA) asal kota Lhokseumawe sejabodetabek Kembali menggalang dana untuk pembangunan balai pengajian bagi masyarakat terdampak banjir di Kabupaten Aceh Utara.
Kegiatan Halal Bihalal yang digelar di Mie Aceh Samudra ini turut dihadiri sejumlah tokoh Aceh, di antaranya Dr. Ir. H. Mustafa Abubakar, M. Si, Dr. Ir. Surya Darma, MBA, Marsda TNI (Purn.) Fachri Adamy, S.E., Mayjen TNI Herianto Syahputra, H. Sudirman, S. Sosa taau yang akrab disapa Haji Uma, Sekretaris Umum PP. Taman Iskandar Muda: Drs. Yusra Huda, Ak., MM. hingga sejumlah tokoh lainnya. Tema acara “Mengukir jejak jejak kebaikan di Tanah Rencong”. Sabtu (24 April 2026)
Dalam sambutanya Ketua Dewan Pembina Seusama Bapak Marsekal Muda TNI (Purn.) Fachri Adamy, S.E. mengaak seluruh yang hadir pada acara HBH untuk menyisilkan rajekinya untuk pembangunan Balai Pengajian.
Melalui Seusama Peduli II, fokus bantuan diarahkan pada sektor yang lebih fundamental: pembangunan kembali balai pengajian yang rusak akibat banjir. Bagi masyarakat Aceh, balai pengajian bukan sekadar bangunan, tetapi pusat pendidikan agama dan pembinaan moral lintas generasi. Peletakan batu pertama pembangunan dilakukan di kawasan Langkahan, Aceh Utara,
Puncaknya, peletakan batu pertama pembangunan balai pengajian dilaksanakan pada Sabtu (25/4/2026) di Dayah Malem Diwa, Gampong Cot Bada, Kecamatan Langkahan.
Ketua Umum SEUSAMA, Zulkifli Ibrahim, SE., Ak., CA., CPA dalam siaran pers yang diterima Serambinews.com, Sabtu (25/4/2026), menyampaikan bahwa gerakan ini merupakan bentuk tanggung jawab moral warga perantauan terhadap kondisi sosial di tanah kelahiran.
Melalui program Seusama Peduli, pihaknya berkomitmen untuk tidak hanya hadir saat masa darurat, tetapi juga memastikan pemulihan jangka panjang bagi masyarakat terdampak.
Seusama Peduli sendiri merupakan organisasi sosial kemanusiaan turunan dari SEUSAMA yang fokus pada penanganan isu sosial dan kebencanaan.
Sejak hari kedua pasca banjir, organisasi ini telah menyalurkan bantuan darurat kepada warga terdampak melalui program Seusama Peduli tahap pertama.
“Bahkan, para relawan turun langsung ke lokasi sepuluh hari setelah bencana, membawa bantuan sandang dan pangan serta menetap selama kurang lebih dua bulan guna memastikan distribusi berjalan optimal,” ujar Zulkifli Ibrahim.
Memasuki tahap lanjutan melalui program Seusama Peduli 2, organisasi tersebut mengalihkan fokus pada sektor yang lebih mendasar, yakni pemulihan fasilitas pendidikan keagamaan.
Pembangunan balai pengajian dipandang sebagai langkah strategis untuk membangun kembali kehidupan sosial masyarakat dari sisi spiritual dan moral.
“Balai pengajian bukan sekadar bangunan fisik, tetapi menjadi pusat pembinaan karakter dan akhlak masyarakat. Kehilangannya akibat banjir berdampak langsung pada terhentinya aktivitas belajar mengaji bagi semua kalangan,” ujar Zulkifli.
Dalam program ini, Seusama Peduli menargetkan pembangunan 15 balai pengajian di Kecamatan Langkahan dan Jambo Aye.
Lokasi pembangunan ditentukan secara selektif, yakni balai pengajian yang mengalami kerusakan minimal 85 persen atau hilang akibat banjir, serta memiliki status tanah wakaf yang sah untuk menghindari konflik kepemilikan di masa mendatang.
Dengan harapan, balai-balai pengajian yang dibangun kembali ini tidak hanya menjadi simbol kebangkitan pascabencana, tetapi juga menjadi fondasi kuat dalam membangun generasi Aceh yang berilmu dan berakhlak. Dari tanah rantau, harapan itu kembali disemai—untuk Aceh yang lebih kuat, dari balai pengajian yang kembali berdiri.
Dengan harapan, balai-balai pengajian yang dibangun kembali ini tidak hanya menjadi simbol kebangkitan pascabencana, tetapi juga menjadi fondasi kuat dalam membangun generasi Aceh yang berilmu dan berakhlak. Dari tanah rantau, harapan itu kembali disemai—untuk Aceh yang lebih kuat, dari balai pengajian yang kembali berdiri. (LEP)


