Baca Juga

Minggu, 14 Juni 2026

Menjaga "Bara" Keacehan di Negeri Paman Sam dan Kanada: Catatan Silaturahmi Diaspora Global Aceh ke Seattle, Vancouver dan Calgary

BY GentaraNews

SEATTLE & VANCOUVER — Jarak ribuan kilometer dari tanah kelahiran bukanlah penghalang bagi semangat dan identitas keacehan untuk terus hidup dan berkembang. Antara tanggal 3 hingga 7 Juni 2026, Sekretaris Jenderal DPP DGA, Dr. Surya Darma, melaksanakan kunjungan kerja dan silaturahmi ke kota Seattle di Amerika Serikat, serta Vancouver dan Calgary di Kanada.


Kunjungan ini memiliki makna mendalam, bukan sekadar pertemuan rutin organisasi, melainkan sebuah misi budaya dan persaudaraan. Tujuannya adalah mempererat ikatan, menjaga nilai-nilai adat, tradisi, bahasa, serta ajaran agama, khususnya bagi warga keturunan Aceh yang kini telah menjadi warga negara setempat, namun tetap memelihara rasa cinta dan keterikatan mendalam terhadap Serambi Mekkah.

Tiga Generasi yang Tetap Berjati Diri di Seattle

Di kota Seattle, komunitas asal Aceh telah berdiri kokoh selama puluhan tahun, bahkan kini telah melahirkan generasi ketiga yang lahir dan besar di Amerika Serikat. Meski hidup di lingkungan yang berbeda, mereka tetap setia memegang teguh ajaran Islam dan warisan budaya leluhur.

Dua tokoh utama yang menjadi tulang punggung komunitas ini adalah Adron Razi Yusuf (Ketua DGA Sagoe Amerika) dan Fauzi Daud (General Manager Holland America Lines), keduanya berasal dari Bireuen. Keberhasilan mereka mendidik anak cucu hingga ada yang menjabat sebagai Imam di Seattle — Ustadz Syarif, putra Adron Razi — serta menduduki posisi penting di perusahaan pelayaran internasional, membuktikan bahwa putra-putri Aceh mampu berprestasi di kancah global tanpa melupakan jati diri.

Gagasan Strategis untuk Kemajuan Aceh

Komunitas DGA Sagoe Amerika tidak hanya berkumpul untuk menjaga persaudaraan, tetapi juga aktif mengamati perkembangan di tanah air. Dalam diskusi dengan Dr. Surya Darma, mereka menyampaikan keprihatinan terhadap berbagai tantangan yang dihadapi Aceh, mulai dari perubahan pola hidup masyarakat hingga keterbatasan akses layanan kesehatan.




Dari kegelisahan tersebut, lahirlah dua program strategis yang siap dijalankan:

Reaktivasi Pusat Pelatihan Perhotelan dan Kapal (ITHC)

Program International Training and Hospitality Center yang sempat dirintis bersama Universitas Syiah Kuala dan Pemerintah Aceh, sempat terhambat karena keterbatasan dana. Padahal kebutuhan tenaga kerja profesional di bidang perhotelan, pariwisata, dan pelayaran mencapai 180.000 orang di seluruh dunia.

Fauzi Daud kini sedang menyusun kurikulum dan mencari tenaga pengajar berstandar internasional. Program ini diharapkan didukung oleh Pemerintah Aceh dalam hal pendanaan, sedangkan pengelolaan mutu dan penempatan kerja akan ditangani langsung oleh praktisi berpengalaman agar lulusan Aceh dapat bersaing di pasar global.

Kedaulatan Pangan Melalui Rumah Pangan Aceh (RPA)

Untuk memperkuat ketahanan pangan, komunitas mengusulkan konsep Rumah Pangan Aceh. Program ini bertujuan membina petani dari hulu hingga hilir, memutus rantai penekanan harga oleh tengkulak, serta meningkatkan nilai jual hasil bumi.

Sebagai percontohan, RPA telah membina 40 petani di Banda Aceh dan sekitarnya. Salah satu produk unggulannya adalah tempe berbahan kacang koro, yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada kedelai impor. Ke depannya, akan disusun tata kelola yang jelas dan transparan agar program ini berkelanjutan.

Meunasah Aceh: Benteng Budaya di Kanada

Perjalanan dilanjutkan ke Vancouver, tempat berdirinya Meunasah Aceh Vancouver di bawah naungan Achehnese Canadian Community Society. Di kota ini tinggal sekitar 500 jiwa keturunan Aceh, hampir semuanya telah menjadi warga negara Kanada dari generasi pertama hingga ketiga.

Meunasah berfungsi sebagai pusat kegiatan ibadah, tempat belajar bahasa dan budaya, serta wadah melestarikan seni tari, pakaian adat, dan kuliner khas. Selain itu, tempat ini juga menjadi titik kumpul untuk menggalang bantuan kemanusiaan ketika Aceh mengalami musibah.

Sinergi Lintas Benua

Dalam kunjungan ini, Adron Razi Yusuf mendampingi penuh perjalanan Sekjen DGA dari Seattle hingga ke Kanada. Di sana, penyambutan hangat diberikan oleh Muhammad Taufik Evendi, Ketua DGA Sagoe Kanada yang berdomisili di Calgary.

Melalui koordinasi yang baik, seluruh warga Aceh di berbagai wilayah Kanada, termasuk di Toronto, dapat terhubung baik secara langsung maupun daring. Rangkaian pertemuan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.



Penutup: Semangat yang Tak Pernah Padam

Dr. Surya Darma mengapresiasi dedikasi seluruh pengurus dan anggota komunitas di Amerika dan Kanada. “Jauh dari tanah air, mereka justru menjaga identitas lebih erat dan terus berusaha memberikan manfaat bagi kemajuan Aceh. Ini adalah bukti nyata bahwa ikatan persaudaraan tidak terhalang jarak,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada semua tokoh yang terlibat dan berdoa semoga semua upaya ini membawa keberkahan.

“Sejauh apa pun kami merantau, paspor apa pun yang kami pegang, darah dan hati ini tetap milik Aceh. Meunasah, Rumah Pangan, dan jaringan DGA adalah tempat kami menjaga agar bara semangat keacehan tetap menyala terang,” pungkasnya.



Oleh: Dr. Ir. Surya Darma, MBA

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Diaspora Global Aceh (DPP DGA) & Ketua Majelis Adat Aceh Perwakilan Jakarta

Tutorial BloggingTutorial BloggingBlogger Tricks

Baca Juga