Baca Juga

Rabu, 11 November 2020

Bedah Buku Kitab Anti Suap Bersama KPK dan LKPP

BY GentaraNews IN


Tindak Pidana Korupsi merupakan salah satu masalah utama yang saat ini dihadapi oleh Bangsa Indonesia. Terungkapnya berbagai kasus korupsi yang dilakukan oleh para penyelenggara negara, pejabat BUMN hingga korporasi menjadi catatan buruk bagi orde reformasi yang pada awalnya bertujuan untuk melawan Korupsi Kolusi dan Nepotisme.

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan bertajuk “ Untukmu Para Pahlawan Anti Korupsi “, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelenggarakan Webinar Bedah Buku Kitab Anti Suap dengan pembicara yang salah satunya adalah Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Komjen Pol Heru Winarko. Rabu (11/11/20).

Keynote Speaker kegiatan ini, Adnan Pandu Praja, yang merupakan Komisioner KPK tahun 2011-2015 menyampaikan bahwa korupsi telah menjadi musuh bersama bagi bangsa Indonesia, dari statistik penindakan korupsi diketahui bahwa dominasi (lebih kurang 65%) jenis korupsi adalah tindak penyuapan. Dalam rangka merespon hal tersebut, Pemerintah menyusun Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) dengan salah satu aksinya adalah Penerapan Manajemen Anti Suap di Sektor Pemerintah dan Swasta.

“Hal tersebut menunjukkan bahwa korupsi masih terjadi dimana-mana dan tidak sembuh-sembuh maka dunia membuat standarisasi pencegahan korupsi pada 2016. Buku ini membantu menjelaskan salah satu standar Sistem Manajemen Anti Penyuapan berbasis SNI ISO37001:2016 dan bagaimana cara menerapkannya dari pandangan praktisi,” ungkap Adnan.

Kepala BNN RI, Heru Winarko, yang juga bertindak sebagai pembicara menyampaikan apresiasinya atas peluncuran Buku Kitab Anti Suap. Ia juga menyampaikan pandangannya kepada peserta Webinar bahwa dengan adanya buku ini bagaimana kita menjaga marwah instansi.

“Pertama-tama kita menjaga marwah instansi baru kita membangun budaya organisasi. Ini yang sebenarnya perlu kita budayakan bukan hanya di KPK tapi juga diseluruh instansi, kalau sudah kita dapatkan budaya organisasi, itu yang harus kita kerjakan bersama-sama,” ujar Kepala BNN.

Dalam paparannya ia menyampaikan yang sangat diperlukan adalah di BNN adalah Integritas, sesuai dengan budaya organisasinya “Berani, Nasionalis, Netral, Responsif dan Inovatif. Selain itu ia juga menjelaskan bahwa bisnis Narkoba di Indonesia sangat menggiurkan, sehingga diperlukan petugas-petugas yang kuat tidak menerima suap dalam bentuk apapun.

“bagaimana kita membuat sdm-sdm yang benar tangguh di lapangan, keteladanan dan komitmen merupakan hal yang terpenting. Saya juga mencoba mengajak teman-teman semuanya untuk menjadikan BNN sebagai benteng terakhir permasalahan Narkoba,” ungkapnya.

BNN memiliki pengawasan internal yang disebut Inspektorat Utama, dimana Inspektur Utama membawahi empat Inspektur yang salah satunya adalah Inspektur Khusus untuk mengawasi adanya berbagai macam penyimpangan.

“pengawasan inilah yang nomor satu yang kita fokuskan untuk maping isu internal, khususnya menentukan orang-orang yang mempunyai integritas kuat untuk menghadapi godaan-godaan narkoba, Selain itu, kesejahteraan bukan hanya gaji tapi juga keselamatan dan kesejahteraan terkait karir mereka karena SDM adalah asset kita.” tandasnya.

Peranan internal audit sangat diperlukan, untuk itu Irsus yang merupakan auditor profesional memiliki kewenangan khusus dan harus tegas. Rewards dan punishment sangat penting dalam suatu organisasi. Jika ada penyimpangan maka akan diberlakukan sanksi. Bagaimana peranan dari pengawas internal ini harus benar-benar diberdayakan dan harus ada output yang dicapai.

“Marwahnya organisasi ini tergantung dari pengawas internal,” tutupnya.

Dengan hadirnya buku ini diharapkan para pembaca dapat menggunakan sebagai panduan penerapan Sistem Manajemen Anti Penyuapan secara mandiri atau memahami apa itu Sistem Manajemen Anti Penyuapan dan mendapatkan gambaran bagaimana menerapkannya. (LEP)








Sumber : Biro Humas dan Protokol BNN RI

Selasa, 10 November 2020

Penyelundupan Sabu 33 Kg Jalur Laut Berhasil Diamankan BNNP Kepri

BY GentaraNews IN

Badan Narkotika Nasional Propins Kepulauan Riau berhasil mengungkap penyelundupan 33 kg sabu melalui jalur laut dari Malaysia menuju Tembilahan, Riau dengan menahan 3 orang tersangka, masing masing inisial inisial S (49 Tahun), I (34 Tahun) dan A (46 Tahun). Senin (9/11/20)

Dalam rilisnya Kepala BNNP Kepri, Brigjen Pol. Drs. Richard M Nainggolan mengatakan,”BNNP Kepri mendapat informasi warga masyarakat bahwa diperairan depan pantai Nongsa akan terjadi transaksi sabu yang berasal dari Malaysia, Jelasnya. Rabu(11/11/2020). 

“Selanjutnya kira kira jam 18.00 petugas BNNP Kepri meluncur menuju ke perairan Pulau Putri dan sekitarnya jam 19.30, pada koordinat 1,22282430 dan 104,1541510 petugas melihat speedboat berjalan dari arah Malaysia melintasi kapal petugas, petugas melakukan pengejaran guna melakukan pemeriksaan. Akan tetapi, speedboat tersebut menambah kecepatannya hingga kapal petugas pun harus menambah kecepatan,” tambah Kepala BNNP Kepri

“Ketika kapal petugas berhasil mendekat tekong, speedboat tersebut meloncat ke laut dan membiarkan speedboatnya tetap berjalan. Karena petugas telah melihat ada barang bukti Narkotika diduga jenis sabu di dalam speedboat tersebut, sehingga petugas lebih dahulu mengejar barang bukti,”beber Richard M Nainggolan.

“Saat petugas akan mengambil barang bukti, speedboat tersebut mulai karam sehingga petugas hanya bisa menyelamatkan barang bukti Narkotika sedangkan speedboat tersebut tenggelam,” tambahnya

“Kemudian petugas melakukan pencarian terhadap tekong tersebut di area laut, hingga pukul 02.00 WIB. Pada Selasa (10/11/2020), petugas belum dapat menemukan tekong tersebut,” terangnya.

BNNP Kepri melakukan pengembangan berdasarkan informasi dari masyarakat pelaku yang melarikan diri, bahwa tersangka yang lompat ke laut adalah bernama inisial S (49) seorang warga negara Indonesia (WNI) yang berprofesi sebagai nelayan beralamat di Belakang Padang.

Pengembangan terus dilakukan. Dari hasil interogasi pelaku, petugas BNNP Kepri kembali mengamankan iskandar. Ketiga pelaku merupakan sindikat peredaran narkoba yang tergabung dalam jaringan malaysia.

“Modusnya, mereka mengambil barang haram ini di perairan OPL. Rencananya akan dibawa ke Palembang menggunakan kapal speed boat, sabu tersebut merupakan pesanan dari SR, warga Palembang yang saat ini masuk dalam daftar DPO,” jelasnya.

Untuk membawa sabu dari periaran perbatasan indonesia dan malysia, pelaku mendapatkan upah Rp 30 juta per kilogram atau sejumlah hampir Rp 1 miliar untuk 33 kilogram yang mereka bawa.

“Tiga pelaku ini merupakan kurir yang diupah untuk membawa sabu masuk ke Indonesia, dan mengantarkan ke daerah sesuai pesanan,” tambahnya. 

Tersangka S yang bertindak sebagai kurir telah melakukan pengiriman narkoba sebelumnya sebanyak 2 kali, pengiriman pertama pada bulan Agustus 2020,” pungkas Jendral Bintang Satu yang sebelumnya menjabat Kepala BNNP Maluku Utara. 

Barang bukti yang diamankan lainya 1 buah fiber box warna merah dan 4 unit handphone. 

Dari hasil tes urine tersangka S dan positive Amphetamne dan methapetamine, sementara A negative.

Para tersangka dijerat Pasal 112 jo Pasal 114 Undang-undang RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman pidana penjara seumur hidup, atau 20 tahun penjara, dan atau hukuman mati atau seumur hidup.

Dari hasil pengungkapan kasus ini BNNP Kepri telah menyelamatkan 174,240 orang anak bangsa dari bahaya penyalahgunaan narkotika. (LEP).

Operasi Laut Interdiksi Terpadu 2020, BNN, Bea Cukai Dan Polairud Menjadi Langkah Nyata Sinergitas Aparat

BY GentaraNews IN

Badan Narkotika Nasional kembali menggelar operasi laut interdiksi terpadu bersama dengan Dit. Polair Baharkam Polri dan Direktorat Penindakan dan Penyidikan Ditjen Bea Cukai. Pembukaan operasi gabungan dilakukan oleh Kepala BNN, Drs. Heru Winarko, S.H., secara virtual didampingi oleh Deputi Pencegahan, Drs. Anjan Pramuka Putra, S.H., M.Hum. selaku penanggungjawab operasi. Selain pejabat BNN, pembukaan operasi gabungan juga dihadiri oleh perwakilan dari Direktorat Jenderal Bea Cukai dan Dit. Polair Baharkam Polri. Selasa (10/11)

Dalam pembukaan tersebut, Kepala BNN menyampaikan bahwa sampai saat ini laut masih menjadi jalur favorit para bandar narkoba. Panjangnya garis pantai dan luasnya wilayah pengawasan membuat sindikat narkoba memanfaatkan kelengahan aparat dalam menyelundupkan narkotika. Oleh sebab itu, menurut Heru Winarko sangat penting untuk bekerjasama dalam memfokuskan perhatian di wilayah perbatasan laut Indonesia.

“Operasi gabungan ini menjadi wadah awal untuk berkolaborasi, bekerjasama, dan bersinergi sehingga pemberantasan peredaran gelap narkotika dapat dilakukan dengan lebih efektif,” ujar Kepala BNN.

Sebanyak 223 anggota gabungan dan 11 kapal milik Ditpolair dan Ditjen Bea Cukai diterjunkan dalam operasi ini. Kepada para tim di lapangan Heru Winarko berpesan untuk menjaga kesahatan dan patuhi protokol kesehatan.

“Saya berdoa semoga seluruh pelaksana operasi senantiasi dilindungi dan disertai Tuhan Yang Maha Esa dalam menjalankan tugas mulia ini,” tutup Heru Winarko dalam sambutannya. (LEP)






Biro Humas dan Protokol BNN RI

Kepala BNN Tegaskan Budaya BNN RI Tidak Dibuat Secara Top Down Dalam Induction Training

BY GentaraNews IN

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Drs. Heru Winarko, SH, membuka kegiatan Induction Training secara virtual. Induction Training atau Pelatihan Induksi merupakan pelatihan tahunan yang diadakan khusus untuk Pegawai yang baru bergabung maupun Pegawai yang sudah bergabung namun kurang dari 1 tahun. di ruang kerja kepala BNN, Cawang, Jakarta Timur. Senin (9/11/20)

Dalam sambutannya, Heru winarko mengungkapkan bahwa budaya yang ada di BNN tidak dibuat secara Top Down dan bukan given. Pegawai yang ada di BNN itu cukup kompleks. Ada yang berasal dari berbagai Instansi di luar BNN maupun ada yang Pegawai organik BNN. Sehingga BNN membutuhkan suatu budaya yang menjadi kesepakatan bersama bagi seluruh Pegawai yang bekerja di BNN. Pembentukan budaya BNN telah dilakukan cukup lama, dan akhirnya mampu terbentuk dan terdapat pelatihan yang mewadahinya.

Pada tahun 2019, Pelatihan diadakan secara tatap muka sehingga para peserta dapat diajak berkunjung ke Pusat Laboratorium Narkotika. Selain itu dalam Pelatihan Induksi tahun lalu tersebut, kepala BNN Kolombia pun turut memberikan materi dan berbagi pengalamannya dalam kegiatan penangkapan Pablo Escobar, yang merupakan gembong narkoba di Kolombia.

Untuk tahun ini, dikarenakan pandemi covid 19, Pelatihan Induksi dilaksanakan secara virtual. Walau demikian, diharapakan nilai-nilai dan budaya organisasi ini tetap dapat diterima dan diresapi oleh seluruh peserta. Atribut-atribut Instansi asal peserta, diharapkan dapat ditinggalkan dan digantikan oleh budaya-budaya BNN selama yang bersangkutan bekerja di BNN.

Salah satu budaya BNN yang harus diterapkan yaitu Berani, Nasionalisme, Netral, Responsif dan Inovatif. Budaya ini harus diterapkan hingga tingkat Pegawai di BNNP dan BNNK/Kota, baik Pegawai yang baru bergabung maupun Pegawai yang sudah lama bergabung sehingga seluruh Pegawai mampu menjadi satu kesatuan yang utuh dan satu persepsi.

Kepala BNN juga berharap dengan adanya pelatihan ini, para peserta pelatihan yang tahun ini terdiri dari Karo Kepegawaian, para kepala BNNP, para kepala BNNK, dan para Kepala Bagian, mampu menunjukkan etos kerja, nilai-nilai Organisasi dan Integritas.

Heru Winarko juga menegaskan bahwa BNN merupakan Instansi Sipil sehingga cara kerja yang otoriter tidak bisa diterapkan. Cara kerja di BNN merupakan cara kerja yang gotong royong. Kepala BNNP selain menjadi pimpinan di Daerah, juga harus bisa menguasai lapangan dan menjadi Koordinator Tim Assesment Terpadu (TAT).

“Pegawai yang baru bergabung dengan suatu organisasi, membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan membutuhkan bantuan dari Pegawai yang telah lama di organisasi tersebut agar tidak terjadi Culture Shock. Diharapkan dengan adanya pelatihan ini, para Pegawai mampu segera menyesuaikan agar segera mampu bekerja sama dengan Pegawai yang sudah dan bekerja sesuai dengan budaya organisasi BNN.” ungkap Heru Winarko.

Selain itu, Heru Winarko juga mengungkapkan bahwa dengan adanya Pelatihan Induksi ini diharapkan para peserta mampu mengenal dan mengimplementasikan nilai-nilai budaya kerja BNN,meningkatkan kinerja Pegawai dan memperbaiki citra Pegawai BNN Pusat sampe Daerah, sehingga terciptanya perubahan pola pikir dan budaya kerja Pegawai menjadi budaya yang mengembangkan sikap dan perilaku kerja yang berorientasi pada hasil yang diperoleh produktivitas kerja dan kinerja yang tinggi untuk memberikan pelayanan kepada Masyarakat

Di akhir sambutannya, kepala BNN secara resmi membuka Pelatihan Induksi. Dan berterima kasih kepada penyelenggara serta para narasumber yang berkontribusi dalam kegiatan Pelatihan ini. (LEP)



Sumber : Biro Humas dan Protokol BNN RI

Pengedar Sabu 1 Orang Mati Ditembak, 20 Kg Sabu Dalam Bungkus Milo Disita

BY GentaraNews IN


Tim Harimau Kampar Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Riau dibantu Satresnarkoba Polres Dumai menangkap tiga orang kasus narkoba. Ada 20 Kg sabu yang diamankan dalam penangkapan ini. Seorang bandar narkoba bernama Hendra tewas ditembak, 20 Kg Sabu diamankan. Senin (9/11/20) jam 2.00 dini hari

Kapolda Riau Irjen Pol. Agung Setya Imam Effendi, dalam jumpa pers didepan awak media mengatakan, "Mereka kita tangkap pukul 02.00 dini hari di Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau. Barang bukti yang diamankan 20 Kg sabu," kata Kapolda Riau, Irjen Agung Setya Imam. Senin (9/11/2020).

"Para pihak yang ditangkap ini diduga terkait dengan jaringan narkoba internasional. Ketiga orang itu ditangkap saat akan membawa sabu masuk ke Pekanbaru dari Bengkalis," Jelas Kapolda Riau.

"Mereka ini akan membawa barang bukti sabu dari Bengkalis untuk dimasukkan ke Pekanbaru," tambah Kapolda Riau

"Ada hal yang baru, kemasan (sabu) yang biasanya dalam bungkus teh, kali ini mereka mengelabui, bungkus Milo. Ini cara mereka menghindari upaya identifikasi. Kita akan terus kembangkan kasus ini," kata Kapolda Riau

Ketiga orang tersebut ialah Syamsul Bahri, Simson Siahaan dan Hendra. Polisi menembak mati Hendra yang berusaha menabrak polisi.

Tersangka Simon Siahaan, disebut sebagai tim sukses calon Bupati Pelalawan, Adi Sukemi. Adi Sukemi disebut sebagai anak Bupati Pelalawan, M Harris. Dia maju sebagai calon bupati diusung Golkar bersama calon Wakil Bupati, Muhammad Rais.

"Iya benar, tersangka jaringan narkoba atas nama Simon Siahaan adalah tim sukses dari nomor pasangan 04. Iya anaknya Pak Bupati Pelalawan," kata Kapolda Riau Irjen Agung Setya Imam Effendi saat dimintai konfirmasi, Selasa (10/11/2020).

Irjen Pol. Agung Setya Imam Effendi mengatakan, "Simon Siahaan merupakan bagian dari tim survei. Menurutnya, Simon tidak berkomunikasi dengan Adi Sukemi secara langsung," katanya

"Hasil pemeriksaan, menjadi tim sukses ini tersangka Simon Siahaan komunikasinya sama bapaknya (M Harris). Jadi komunikasinya sama Pak Harris, tidak sama Adi Sukemi-nya langsung," tambah Irjen Pol. Agung Setya Imam Effendi.

Pengejaran Tabrak mobil polisi

Polisi membuntuti tersangka Hendra dan Syamsul Bahri yang sedang melaju dengan mobil Avanza warna hitam.

Sesampainya di Jalan Arifin Achmad, Kecamatan Bukit Batu, Bengkalis, tim melakukan pengejaran dan mengadang mobil tersangka.

Namun, tersangka Hendra yang mengemudikan mobil nekat menerobos petugas untuk melarikan diri.

Karena tersangka mencoba kabur, petugas langsung mengejar. Dalam pengejaran itu, tersangka menabrakkan mobilnya ke mobil petugas. Sehingga, petugas melepaskan tembakan senjata api beberapa kali ke arah mobil tersangka.

Kasubdit I Dit Narkoba Polda Riau AKBP Hardian Pratama yang memimpin penangkapan itu tampak membuka pintu mobil bagian depan.

Tersangka Hendra terlihat sudah tak berdaya. Sedangkan tersangka Syamsul Bahri sudah diborgol.

Hardian meminta anggotanya untuk mencari ambulans untuk membawa Hendra ke rumah sakit di Dumai.

Setelah dilakukan penggeledahan di dalam mobil, petugas mengeluarkan dua buah karung goni dan satu buah tas berisi sabu.

Tim Hariau Kampar amankan 20 kg sabu

Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi dalam konferensi pers menyatakan, tersangka diberikan tindakan tegas karena melawan petugas.

"Tersangka Hendra melawan dengan cara menabrakkan mobilnya ke mobil Tim Harimau Kampar. Sehingga, petugas memberikan tindakan tegas. Tersangka Hendra tewas akibat mengalami tembakan petugas. Jasad tersangka kini masih di rumah sakit," ungkap Agung kepada wartawan, Senin sore.

Dikatakan Kapolda, barang bukti sabu yang berhasil diamankan sebanyak 20 kilogram sabu. Barang haram itu dipaket dalam bungkus Milo dan teh China.

Menurut Agung, tersangka menggunakan bungkus Milo sebagai Irjen Agung Setya Imam Effendi, kepada wangka untuk mengelabui petugas. Namun, seperti apa pun cara mereka akan kita ungkap untuk memberantas narkotika," kata Agung.

4 tersangka, dua tewas

Dia menambahkan, dalam kasus peredaran narkotika ini melibatkan empat orang tersangka.

Mereka adalah Hendra, Syamsul Bahri, Simson siahaan, dan Syaharudin Effendi.

Dua tersangka ditangkap hidup, sedangkan dua lagi meninggal dunia.

"Tersangka Hendra meninggal dunia akibat mengalami luka tembak. Untuk tersangka Syaharudin Effendi, meninggal dunia karena sakit. Tersangka ini adalah narapidana di Lapas Kelas IIA Pekanbaru. Dialah yang mengendalikan Hendra dan Syamsul Bahri untuk mengedarkan narkotika," pungkas Agung.

Sebagaimana diberitakan, Ditresnarkoba Polda Riau melakukan penangkapan terhadap tersangka bandar narkotika jenis sabu di Kabupaten Bengkalis, Riau, Senin (9/11/2020), sekitar pukul 02.00 WIB.

Dalam penangkapan ini, satu orang bandar narkoba bernama Hendra tewas ditembak polisi

Selain tiga orang tersebut, Agung mengatakan ada seorang lagi bernama Saharudin Effendi yang merupakan narapidana di Lapas Pekanbaru. Saharudin diduga merupakan pengendali jaringan narkoba tersebut.

"Saharudin ini meninggal dunia di Lapas Pekanbaru karena muntah darah dari sakit yang dideritanya. Ini laporan dari Kalapas Pekanbaru. Dia meninggal pukul 23.00 WIB tadi malam," Jelas Kapolda Riau. (LEP).

Tutorial BloggingTutorial BloggingBlogger Tricks

Baca Juga